HELLO KITTY

HELLO KITTY
KITTY

Selasa, 01 Desember 2015

CANDI BOROBUDUR (LOKASI, SEJARAH, Arti Nama)


Lokasi

Candi Borobudur terletak di desa Borobudur, kecamatan Borobudur, kabupaten Magelang, Jawa Tengah dan dikelilingi beberapa dusun antara lain Bumi Segoro, Sabreng, Gopala, Jawahan, Barepan, Ngarak, Kelan, Janan, dan Gendingan.
Dr. Soemono dalam bukunya Candi Borobudur, Pustaka Jaya menuliskan:
Pada zaman dahulu Pulau Jawa terapung-apung di tengah lautan oleh karenanya harus dipaku di pusat bumi agar dapat dihuni manusia. Paku yang sangat besar itu kini menjadi sebuah gunung yang terletak di kota Magelang yaitu gunung Tidar. Di sebelah selatan gunung Tidar kira-kira jarak 15 km terdapat candi Borobudur. Candi Borobudur yang terletak di daratan Kedu hampir seluruhnya dilingkari pegunungan.di sebelah timur terdapat gunung Merapi dan gunung Merbabu. Pada gunung Merapi itu setiap dua atau tiga tahun terdengar letusan-letusan yang menentukan masih aktif dalam kegiatannya. Sisi barat laut terdapat gunung Sumbing dan Sindoro. Juga di sebelah selatan yang membujur dari dari timur ke barat terdapat pegunungan Menoreh. Oleh karena puncak-puncak pegunungan ini banyak yang runcing bagai menara maka pegunungan ini dinamakan pegunungan Menoreh. Di lihat dari candi Borobudur puncak-puncak pegunungan Menoreh serupa dengan sorang yang sedang terlentang di atas pegunungan tersebut. Karena itulah ada cerita rakyat yang menjelaskan bahwa bagian dari puncak gunung yang serupa dengan orang tidur itu adalah Gunadharma, yaitu ahli bangunan yang berhasil membuat candi Borobudur.
Dataran Kedu dialiri oleh dua sungai besar yaitu sungai Progo dan sungai Elo yang akhirnya menyatu menjadi sungai Progo dan mengalir ke selatan menuju Samudera Indonesia. (Dr. Soekmono, Pustaka Jaya 1981, hal 11 dan 12).


ARTI NAMA
Bangunan-bangunan kuno yang berasal dari jaman purba Sejarah Indonesia (permulaan tarikh Masehi sampai akhir abad ke-150 biasanya disebut Candi. Sebagian besar dari candi-candi itu tidak diketahui nama aslinya. Candi-candi memang harus diketemukan dahulu, sebelum dimasukkan ke dalam khasanah pusaka budaya kita. Juga banyak candi-candi yang diberi nama yang sama seperti desa di man acandi itu berada. Tetapi ada juga desa yang diberi nama menurut candinya. Hanya satu dua candi sajalah yang masih tetap menyimpan nama aslinya. Candi Borobudur sendiri sulitlah ditentukan apakah nama Borobudur mengambil dari nama desa ataukah nama desa yang mengambil nama dari candi tersebut.
Dari Babad (kitab sejarah Jawa) dari abad ke-18 tersebut “BUKIT BOROBUDUR”, sedang keterangan yang disampaikan kepada Raffless (Letnan Gubernur Jenderal Inggris) dalam tahun 1814 di desa Bumi Segoro menyatakan adanya sebuah penemuan-penemuan purbakala bernama “BOROBUDUR”. Dengan penemuan itu maka dapat disimpulkan bahwa nama Borobudur adalah nama asli dari bangunan candinya. Walaupun demikian perlu dicatat bahwa tidak ada sesuatu keterangan, baik prasasti maupun dokumen lain yang mengungkapkan nama candi Borobudur yang sesungguhnya.
Naskah dari tahun 1365 M, yaitu kitab Negara Kertagama karangan Mpuk Prapanca juga menyebutkan kata/nama Budur untuk sebuah bangunan agama Buddha aliran WAJRADA.
Kemungkinan yang ada “BUDUR” tersebut tidak lain adalah candi Borobudur. Karena tidak adanya keterangan yang lain kitanya tidak bias diambil suatu kepastian.
Jadi, nama Borobudur berarti asrama / Vihara atau kelompok candi yang terletak di atas tanah / bukit. (Drs. Soedirman, Borobudur salah satu keajaiban dunia 1980, hal 8).
Candi Borobudur tidak hanya diperindah dengan relief-relief dan ukiran-ukiran hias tetapi juga dapat dibanggakan karena patung-patungnya yang sangat tinggi mutu seninya. Patung-patung itu semua menggambarkan Dhayani Buddha terdapat pada bagian Rupadhatu dan Arupadhatu. Patung-patung Buddha di Rupadhatu ditempatkan dalam relung-relung yang tersusun berjajar pada sisi luar pagar langkan sesuai dengan kenyataan bahwa tingkatan-tingkatan bangunannya semakin tinggi letaknya semakin kecil ukurannya.
Langkan pertama              : 104 patung Buddha
Langkan kedua                 : 104 patung Buddha
Langkan ketiga                 : 88 patung Buddha
Langkan keempat              : 72 patung Buddha
Langkan kelima                 : 64 patung Buddha
Teras bundar perama         : 32 patung Buddha
Teras bundar kedua           : 24 patung Buddha
Teras bundar ketiga           : 16 patung Buddha

Jumlaj seluruhnya              : 504 patung Buddha

Sekilas patung-patung Buddha itu nampak serupa semuanya, tetapi sesungguhnya ada juga perbedaannya. Perbedaan yang sangat jelas ialah sikap tangannya yang disebut Mudra yang merupakan ciri khas setiap patung.

Sikap tangan atau Mudra Candi Borobudur ada 6 macam
Hanya saja oleh karena kedua macam Mudra yang dimiliki oleh patung yang menghadap semua arah baik dibagian Rupadhatu (langkan tingkat 5) maupun dibagian Arupadhatu pada umumnya menggambarkan maksud-maksud yang sama. Maka jumlah Mudra yang pokok ada 5, yaitu :

  1. Bhumispara Mudra:
Sikap tangan ini melambangkan saat sang Buddha memanggil Dewi Bumi sebagai saksi ketika ia menangkis semua serangan iblis Mara.
  1. Wara Mudra :
Sikap tangan ini melambangkan perihal amal, membari anugrah atau berkah. Mudra ini adalah khas bagi Dhayani Buddha Ratna Sambawa. Patung-patungnya menghadap ke selatan.
  1. Dyana Mudra :
Sikap tangan ini melambangkan sedang atau mengheningkan cipta. Mudra ini merupakan tanda khusus Dhayani Buddha Amitabha. Patung-patungnya menghadap ke barat.
  1. Abhaya Mudra :
Sikap tangan ini melambangkan sedang menenangkan. Mudra ini merupakan tanda khusus Dhayani Buddha Amoghasdhi. Patung-patungnya menghadap ke utara.
  1. Dharma Cakra Mudra :
Sikap tangan ini melambangkan gerak memutar roda dharma. Mudra ini menjadi cirri khas Dhayani Buddha Wairocana daerah kekuasaannya terletak di pusat. Khusus di Candi Borobudur Wairocana ini digambarkan juga dengan sikap tangan yang disebut Witarka Mudra.
(Dr. Soekmono, Candi Borobudur, Pustaka Jaya, 1981, hal 80, 82, 83).

HTISAR SEJARAH
Waktu didirikan :
            Sampai sekarang belum pernah ditemukan sumber-sumber tertulis yang menyebutkan bilamana Candi Borobuur itu dibangun sehingga secara pasti tidak dapat ditentukan usianya. Beberapa bukti telah dikemukakan oleh para ahli untuk menentukan usia dari bangunan Borobudur itu. Pada bagian kaki Candi Borobudur yang tertutup terdapat tulisan Sansakerta dengan huruf Kawi. Dengan membandingkan bentuk huruf-huruf tersebut dengan prasasti-prasasti bertarikh yang ada di Indonesia, maka sementara sarjana berpendapat bahwa Candi Borobudur dibangun sekitar tahun 800 M. Pada abad itu di Jawa Tengah berkuasa raja-raja dari Wangsa Syailendra yang menganut agama Buddha Mahayana sehingga dapatlah dikatakan bahwa Borobudur bersifat agama Buddha Mahayana itu ada hubungannya dengan Wangsa Syailenra.
(Drs. Soedirman, Borobudur Salah Satu Keajaiban Dunia, 1980, hal 1)

Uraian bentuk bangunan :
            Candi Borobudur tidak mempunyai bilik ataupun ruangan didalamnya oleh karena itu tidak dapat berfungsi sepenuhnya sebagai Candi. Maka lebih tepatnya kiranya kalau bangunan iti kita anggap sebagai bangunan ziarah dan bukan sebagai tempat pemujaan.
            Sesungguhnyalah adanya jenjang dan lorong-lorong dimaksudkan itu kita anggap sebagai pengantar serta pemanduu para peziarah untuk menuju ke puncak melalui jalan keliling dari satu tingkat ke tingkat berikutnya.
            Perjalanan setingkat demi setingkat sesuai benar dengan aliran Buddha yang mrmang sangat mementingkan adanya tingkatan-tingkatan dalam persiapan mental para penganutnya yang setia. Melalui tingkatan-tingkatan itulah tujuan akhir perjalanan manusia dapat tercapai. Yaitu terlepasnya secara mutlak dari segi ikatan duniawi dan dapat bebas secara mutlak dari kelahiran kembali.
            Adapun tingkatan-tingkatan itu pada dasarnya dapat pula diterapkan pembagian alam semesta menjadi tiga dunia :

Dunia paling bawah
KAMANDHATU : atau dunia hasrat. Dalam tingkatan ini manusia masih terikat pada hasrat bahkan dikuasai oleh hasrat. Relief ini terdapat pada kaki candi bangunan asli.

Dunia yang lebih tinggi :
RUPADHATU : atau dunia rupa. Manusia telah meninggalkan segala hasrat, tetepi masih terikat pada nama dan rupa. Bagian ini terdapat pada langkah 1 sampai 5.
Dunia yang tertinggi :
ARUPADHATU : atau dunia tanpa rupa. Dalam tingkatan ini sudah tidak ad asana sekali nama ataupun rupa. Manusia telah bebas sama sekali dan telah memutuskan untuk selama-lamanya segala ikatan kepada dunia fana.
(Dr. Soekmono, Candi Borobudur, Pustaka Jaya, 1981, hal 47).

Bangunan Candi Borobudur berbentuk limas berundak dan apabila dilihat dari atas merupakan bujursangkar. Bangunan candi ada 10 tingkat. Tiga tingkat yang paling atas berbentuk lingkaran dengan tiga teras.

            Teras pertama terdapat            : 32 stupa berlubang
            Teras kedua terdapat               : 24 stupa berlubang
            Teras ketiga terdapat               : 16 stupa berlubang
            Jumlah seluruhnya                   : 72 srupa berlubang

Masing-masing stupa terdapat pating Buddha. Di tengah-tengah stupa tersebut terdapat stupa induk yang merupakan mahkota dari bangunan Candi Borobudur. Stupa induk bergaris tengah 9,90 meter. Tinggi sampai bagian bawah pinakel 7 meter. Drs. Soediman dalam bukunya Borobudur Salah Satu Keajaiban Dunia hal. 36 menulis bahwa diatas puncak pinakelnya dahulu diberi paying (cattra) bertingkat tiga (sekarang tidak terdapat lagi). Stupa induk ini yang sekarang tidak berisi. Ada yang mengatakan bahwa ruangan itu untuk tempat penyimpanan arca atau relief, tapi pendapat itu masih diragukan kebenarannya. Karena sewaktu diadakan penyelidikan mengenai isi dari stupa oleh Residen Kedu Hartmann dalam tahun 1842 sama sekali tidak dibuatkan laporan tertulis, sehingga semua pendapat mengenai isi stupa induk itu hanyalah dugaan belaka.
Lebar dan panjang Candi Borobudur : 123 m
Keliling Candi Borobudur                  : 492 m
Tinggi sekarang                                   : 34, 5 m
Batu andesit yang digunakan untuk bangunan Candi sebanyak 55.00 m3

USAHA PENYELAMATAN CANDI BOROBUDUR :

  1. Candi Borobudur didirikan sekitar tahun 800 M.
  2. Tahun 1814 Borobudur dikenal kembali berkat usaha Sir Thomas Stamford Raffles.
  3. Tahun 1834 Residen Kedu memerintahkan untuk melakukan pembersihan candi sehingga tampat bangunan Candi seluruhnya.
  4. Tahun 1850 dilakukan usaha memindahkan relief-relief Borobudur keatas kertas gambar.
  5. Tahun 1873 diterbitkan monografi pertama tentang Borobudur.
  6. Tahun 1882 ada usul untuk membongkar seluruh dan memindahkan relief-relief ke suatu museum.
  7. Tahun 1885 YZERMAN melakukan penyelidikan, ia mendapatkan dibelakang batu kaki candi terdapat relief.
  8. Tahun 1889 dibentuk panitia khusus merencanakan penyelamatan Candi Borobudur.
  9. Tahun 1905 pemerintah Belanda menyetujui usul panita dengan menyediakan biaya PL. 48.800 dengan dilaksanakan Van Erp.
  10. Tahun 1907 bulan Agustus Van Erp melakukan Penggalian.
  11. Tahun 1908 usul Van Erp disetujui untuk melakukan usaha-usaha penyelamatan lebih besar dari rencana semula.
  12. Tahun 1910 ditemukan terjadi keretakan baru pada bagian candi.
  13. Tahun 1911 pekerjaan Van Erp selesai, Borobudur kembali utuh.
  14. Tahun 1926 diketahui  pengrusakan yang sengaja dari wisatawan asing yang ingin memiliki bagian dari bangunan candi sebagai cindramata.
  15. Tahun 1929 dibentuk panitia khusus untuk meneliti sebab kerusakan bangunan.
  16. Tahun 1946 ditengah gejolak revolusi fisik 2 orang ahli purbakala dari India diundang untuk menelaah kerusakan Candi Boobudur.
  17. Tahun 1960 diadakan usaha-usaha permulaan penyelamatan Candi Borobudur.
  18. Tahun 1963 catur tunggal dan pejabat kabupaten magelang mengadakan peninjauan khusus ke Candi Borobudur.
  19. Tahun 1963 terbit keputusan penyediaan biaya Rp. 38.000.000,00
  20. Tahun 1964 mendapat anggaran tambahan Rp. 50.000.000,00

Sejarah Seni Rupa Terapan Nusantara



Sejarah Seni Rupa Terapan Nusantara




Karya seni rupa terapan yang terdapat di Nusantara sangat beragam dengan aneka jenis, bentuk, fungsi, dan teknik pembuatannya. Karya Seni rupa terapan Nusantara tersebut dengan segenap keunikan gagasannya patut mendapatkan apresiasi, baik secara aktif maupun pasif. Gagasan (ide kreatif) tersebut merupakan awal proses penciptaan karya seni, termasuk karya seni rupa terapan Nusantara yang diciptakan berdasarkan nilai guna tanpa mengesampingkan nilai seni.

Jika diperhatikan secara seksama dapat disimpulkan bahwa Hasil karya seni rupa terapan setiap daerah itu berbeda-beda dimana masing-masing daerah memiliki keunikan atau kekhasan tersendiri, baik dalam teknik maupun ketersediaan bahan yang ada di sekitarnya. Benda benda seni rupa terapan yang dihasilkan di berbagai daerah, di antaranya sebagai berikut.
Pembagian Karya Senirupa Terapan Nusantara
1. Kerajinan batik
Sejarah batik di Nusantara berkaitan dengan perkembangan Kerajaan Majapahit dan kerajaan sesudahnya. Kain batik dibuat dengan cara melukis dengan menggunakan canting dan kuas di atas kain dengan bahan lilin yang dipanaskan. Hasil proses membatik tersebut dinamakan batik tulis.
2. Kerajinan ukir
Kerajinan ukir di Nusantara, antara lain berupa seni ukir kayu dan seni ukir logam. Daerah-daerah penghasil kerajinan ukir kayu di Nusantara, di antaranya adalah Jepara, Cirebon, Bali, Kalimantan, Papua, Madura, dan Sumatra. Kerajinan ukir logam terbuat dari perak, tembaga, emas, dan kuningan. Proses pembuatan kerajinan logam banyak menggunakan teknik cetak atau cor, tempa, toreh, dan penyepuhan. Daerah penghasil kerajinan logam di Nusantara, antara lain Jawa Tengah dan Yogyakarta.
3. Kerajinan anyaman
Anyaman banyak kita jumpai, baik berupa benda pakai maupun benda hias. Anyaman dibuat dari bahan alami dan bahan sintetis. Bahan-bahan alami yang digunakan, antara lain bambu, rotan, daun mendong, dan janur. Bahan-bahan sintetis yang digunakan, antara lain plastik, pita, dan kertas. Daerah penghasil kerajinan anyaman, antara lain Bali, Kudus, Kedu, Tasikmalaya, dan Tangerang
4. Kerajinan topeng
Topeng merupakan hasil karya seni kerajinan yang bisa digunakan untuk keperluan perlengkapan tari dan hiasan. Kerajinan topeng umumnya dibuat dari bahan kayu. Daerah penghasil kerajinan topeng di Nusantara, antara lain Yogyakarta, Cirebon, Bali, Surakarta, dan Bandung. Setiap daerah memiliki ciri khas topeng yang berbeda.
5. Kerajinan tenun
Tenun merupakan hasil kerajinan tradisional yang dibuat dengan teknik dan alat khusus. Kerajinan tenun banyak terdapat di Kalimantan, Minangkabau, Sumatra Utara, NTT, NTB, Lampung, Flores, Sulawesi, dan Palembang. Motif yang dibuat pun berlainan di setiap daerah. Berbagai motif tenun dari Palembang, antara lain mawar Jepang, cantik manis, bintang berantai, nago besaung, dan bunga cino. Ada dua jenis tenun, yaitu tenun ikat dan tenun songket. Keduanya berbeda dalam teknik dan bahan yang digunakan. Berbeda dengan tenun ikat, pada songket mendapat tambahan benang emas yang diletakkan dengan teknik tusuk dan cukit.
6. Kerajinan wayang
Wayang merupakan budaya asli Nusantara, yang ceritanya berasal dari budaya Hindu India. Wayang dibuat untuk seni pertunjukan sekaligus sebagai hiasan. Jenis wayang terdiri atas wayang kulit yang terbuat dari kulit kerbau dan wayang golek yang terbuat dari kayu. Daerah penghasil kerajinan wayang, di antaranya Bali, Yogyakarta, dan Surakarta.
7. Kerajinan keramik
Keramik merupakan hasil karya seni kerajinan yang berbahan dasar dari tanah. Hasil kerajinan keramik sangat beragam, seperti vas bunga, guci, mangkuk, cangkir, dan lain-lain. Daerah penghasil kerajinan keramik yang terkenal di Nusantara, di antaranya Kasongan (Yogyakarta), Sompok, dan Mayong (Jepara).
Fungsi Karya Senirupa Terapan Nusantara
Secara umum Fungsi Karya seni rupa terapan yang ada di Nusantara memiliki dua fungsi sebagai berikut.
1.   Pemenuhan kebutuhan yang bersifat praktis (kegunaan), yaitu karya yang fungsi pokoknya sebagai benda pakai, selain juga memiliki nilai hias. Misalnya, perabotan rumah tangga, seperti meja dan kursi, lemari, dan tekstil.
2.   Pemenuhan kebutuhan yang bersifat estetis (keindahan), yaitu fungsi yang semata-mata sebagai benda hias. Misalnya, karya batik atau tenun yang dibuat khusus untuk hiasan dinding dan benda-banda kerajinan untuk penghias ruangan, seperti topeng, patung, dan vas bunga.
Bentuk Karya Senirupa Terapan Nusantara
Jika dilihat dari segi bentuknya maka senirupa terapan yang ada di nusantara secara garis besar terbagi empat, yaitu sebagai berikut :
1. Rumah adat
Rumah adat di Indonesia mempunyai bentuk yang sangat beragam. Jika melihat bangunan rumah adat di Indonesia secara keseluruhan maka kita akan dapat membedakan bangunan rumah adat tersebut berdasarkan atapnya, ragam hiasnya, bentuk, dan bahan bakunya. Misalnya, rumah Gadang di Padang bentuknya memanjang ke samping dan rumah adat Minahasa bentuknya memanjang ke belakang. Rumah beratap joglo di Jawa, rumah beratap bubungan tinggi di Jambi, rumah beratap gonjong di Minangkabau, dan rumah beratap limas terpenggal di Papua. Bentuk rumah dengan tiang yang berkolong, atau yang biasa disebut rumah panggung terdapat di Kalimantan, Sumatra, dan Sulawesi.

2. Senjata tradisional
Berbeda dengan masa lalu, beragam senjata tradisional saat ini lebih sering digunakan sebagai peralatan untuk bekerja. Selain itu juga digunakan sebagai perlengkapan acara ritual, perlengkapan pakaian adat, pertunjukkan seni tradisional, dan sebagai benda hias.

3. Transportasi tradisional
Alat transportasi yang masih mempertahankan bentuk dan ciri khas tradisionalnya masih dapat dijumpai di wilayah Nusantara. Misalnya, perahu, kereta kuda, pedati, dan becak.

4. Seni kriya
Bentuk karya seni kriya Nusantara amat beragam. Beragam pula bahan alam yang digunakan. Dari sejumlah seni kriya Nusantara, ada yang tetap mempertahankan ragam hias tradisional dan ada pula yang telah dikembangkan sesuai dengan tuntutan pasar. Seni kriya dapat dikelompokkan menjadi seni kriya pahat, seni kriya tekstil, seni kriya anyaman, dan seni kriya keramik.


Diposkan oleh : seni rupa Posted on Jumat, 25 Januari 2013 - 11.05 with 2 comments
Zaman prasejarah adalah zaman ketika manusia belum meninggalkan bukti tertulis. Sedangkan zaman sejarah adalah zaman ketika manusia telah mengenal tulisan. Kedua zaman ini dapat ditemukan dengan cara yang berbeda. Misalnya pada zaman prasejarah tidak meninggalkan benda-benda hasil kebudayaan manusia. Maka untuk mengetahuinya para ahli sejarah melakukan penelitian dengan cara :
1.  Melakukan ekskavasi untuk menemukan peninggalan budaya yang tertanam di tanah
2. Mempelajari kehidupan suku-suku terasing pada waktu sekarang yang masih hidup seperti di zaman nenek moyang manusia

Sejarah Senirupa Indonesia Zaman prasejarah secara garis besar terbagi atas zaman batu dan zaman logam. Karya-karya seni rupa yang diciptakan pada masa itu umumnya sebagai media upacara dan bersifat simbolis. Seni rupa zaman prasejarah dapat dikelompokkan sebagai berikut.
Sejarah Seni rupa Indonesia zaman batu :
Pada zaman batu, peralatan yang digunakan dibuat dari batu.
Urutan Jaman Prasejarah Zaman batu terbagi atas :
  • Zaman Paleolitikum ( Batu Tua ) : Manusia Nomaden
  • Zaman Mesolitikum (Batu Tengah) : Manusia Tinggal di Goa
  • Zaman Neolitikum ( Batu Muda) : Manusia tinggal menetap mendirikan rumah kayu.
  • Zaman Megalitikum (Batu Besar) : Manusia pada saat itu Mengenal Pemujaan.
Sejarah Senirupa Indonesia Zaman Prasejarah pada zaman Batu tersebut bisa dikelompokkan sebagai berikut.
1) Seni bangunan
Pada zaman Megalithikum banyak menghasilkan bangunan dari batu yang berukuran besar, seperti
punden, dolmen, sarkofagus, dan meja batu.
Kubur Batu dan Menhir yang terdapat ditanah Toraja Sulawesi Selatang, dan Sarkofagus serta Patung Megalit yang terdapat di Pasemah Pelambang.
Dolmen
2) Seni patung 
Seni patung Peninggalan zaman Neolithikum berupa patung - patung penggambaran leluhur yang terbuat dari kayu dan batu. Peninggalan zaman Megalithikum, berupa patung-patung berukuran besar.

Gowawambea" merupakan peninggalan budaya megalitikum.
Tempat: Desa Onolimbu, Kecamatan Sirombu, Nias, Sumatera Utara.
Peninggalan zaman Mesolithikum berupa lukisan cap jari dan lukisan yang menggambarkan perburuan binatang yang ditempatkan pada dinding-dinding gua. Pada zaman Neolithikum dan Megalithikum, lukisan diterapkan pada bangunan, benda-benda kerajinan, dan hiasan ornamen.

Lukisan Babi Hutan - Lukisan Rusa - dan Lukisan Cap Jari yang terdapat di Gua Leang-leang Maros Sulawesi Selatan

Seni rupa zaman logam (zaman perunggu)
Pada zaman logam, peralatan yang dibuat dan digunakan berasal dari benda logam. Peninggalan zaman logam berupa benda-benda kerajinan dari perunggu, sepertiganderang, kapak, bejana, patung, dan perhiasan. Karya seni tersebut dibuat dengan teknik cor (cetak), yang dikenal dengan teknik bivalve (tuang berulang) dan teknik a cire perdue (tuang sekali pakai).

Nekara - Moko
 Kapak coro dan Nekara anda juga bisa lihat pada gambar yang pertama diatas.

Sejarah Senirupa Indonesia Zaman Prasejarah dibagi berdasarkan perkembangan kebudayaan manusia, maka pada Zaman prasejarah meliputi empat masa antara lain :
1.   Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana, serta alat yang digunakan dibuat dari batu.
2.   Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut, serta alat yang digunakan dibuat dari batu yang sudah dibentuk
3.   Masa bercocok tanam, dan alat-alat yang digunakan sudah lebih halus dan bagus.
4.   Masa Perundagian (perindustrian), alat-alat dipergunakan selain dibuat dari batu juga dari logam.

Kelangsungan Keberadaan Senirupa Indonesia Zaman Prasejarah
  • Sejarah senirupa terkait dengan peninggalan saat ini pada masa akhir tarikh masehi terakhir banyak mendapat pengaruh dari kebudayaan hindu yang sudah matang yang berasal dari India.
  • Tetapi budaya asing seperti hindu masuk berpengaruh pada budaya lokal yang tidak mudah hilang, seperti ritual atau semangat ritus terhadap roh nenek moyag sangat kental maka terjadi akulturasi budaya sebagai lokal genius bangsa Indonesia.
  • Punden berundak adalah contoh nilai architektur yang penuh simbol akan makna filosofi banyak terdapat pada peninggalan candi seperti sukuh (abad XV), Borobudur (jaman Samaratungga) dll.
Punden Berundak di Situs Gunung Padang-Jabar
  •  Kesenian Prasejarah masih berlangsung saat ini meskipun terhimpit budaya dari luar. (Nias dan Papua).Manivestasi Tugu adalah menhir pada jaman megalithikum.

Gowawambea

Peti Kubur-Cipari Kuningan

Candi sukuh abad XV

Sarkofagus di Sumba